Sejarah, Latar Belakang serta Strategi yang Digunakan oleh Mixue
![]() |
| sumber : www.harianhaluan.com |
Gabrielle Zoe Purwanto
Mixue pertama kali masuk ke Indonesia pada tahun 2020 yang berlokasi di Cihampelas Walk, Bandung. Merek es krim ini menjadi viral karena banyak orang yang mengatakan rasanya enak dengan harga yang terjangkau sudah begitu porsinya besar pula. Berawal dari situ Mixue jadi buka banyak sekali cabang yang tersebar di seluruh Indonesia.
Pada tahun 2023 kemarin gerai Mixue bisa mencapai 20.000 cabang yang tersebar di seluruh dunia. Di setiap gerainya juga rata-rata pasti ramai pengunjung sampai harus mengantri jika ingin membeli produk mereka.
Penasaran ga sih sejarah dari Mixue ini seperti apa hingga bisa sampai seluas sekarang ekspansi nya. Yuk kita simak sejarah singkatnya.
Mixue merupakan gerai minuman dan es krim yang berasal dari Tiongkok didirikan pada tahun 1997 oleh Zhang Hongchao. Pada awalnya Mixue dibuat dalam bentuk es serut dan dijual dalam kios sederhana di Zhengzhou, Henan. Sebagai seorang mahasiswa Hongchao membuat bisnis ini untuk meringankan beban biaya keluarganya.
Modal awal yang digunakan Hongchao untuk memulai usaha es serut ini adalah dari uang yang dikumpulkan selama kerja paruh waktu dan meminjam sejumlah uang pada neneknya. Saat itu, nenek Hongchao memberikan pinjaman uang sebesar kurang lebih 4.000 RMB atau setara dengan USD 483 pada tahun itu.
Karena modalnya yang terbatas, gerai es serut ini buka pertama kali dengan tampilan gerai yang sangat sederhana. Di dalam gerai tersebut hanya terdapat lemari es, beberapa bangku, dan meja lipat. Hongchao bahkan membuat sendiri mesin yang dipakai untuk memproduksi es serut dengan menggunakan motor, turntable, dan cutter.
![]() |
| sumber : kumparan.com |
Meski dibuat dengan sederhana, produk utama yang dihasilkan sangat unik terutama es serut, es krim dan smoothie nya. Mendapat respon yang baik dari masyarakat, bisnis miliknya ini mulai berangsur membaik, dari sinilah Hongchao memutuskan untuk mulai menjual teh susu di gerainya.
Dengan bisnis ini, Zhang Hongchao dapat memperoleh lebih dari 100 RMB per hari. Namun seiring datangnya musim dingin, masalah pun muncul. Akibatnya, penjualan melambat dan toko terpaksa tutup. Meski begitu, Zhang Hongchao tidak patah semangat. Setahun kemudian, dia kembali membuka toko kedua dan mengganti namanya menjadi Mixue Bingcheng, yang memiliki arti kastil es yang dibangun dengan salju yang manis.
Di toko lain, es krim dijual dengan harga sekitar 10 yuan, tetapi Hongchao dengan cermat menghitung harga berdasarkan biayanya dan akhirnya menetapkannya pada 2 yuan.
Toko ini berkembang pesat sejak dibuka, dan sering kali terjadi antrean panjang di depan toko.
Harga minuman yang ditawarkan oleh Hongchao jauh lebih rendah dibandingkan pesaingnya. Meski harganya murah, Mixue saat ini menjadi merek bubble tea terlaris di Tiongkok.
Pada tahun 2010, Mixue Bingcheng memilih untuk bekerja sama dengan Zhengzhou Baodao Trading Co., Ltd untuk mengembangkan waralaba di seluruh negeri, yang semakin meningkatkan visibilitas dan pengaruh perusahaannya.
![]() |
| sumber : kumparan.com |
Kira-kira apa ya strategi yang digunakan Mixue sampai bisa viral dan banyak diminati oleh banyak orang dari berbagai belahan dunia. Disini kami akan menjelaskan dua strategi yang digunakan oleh Mixue.
Strategi utama Mixue adalah menawarkan es krim dan minuman dengan harga murah. Pembeli di Indonesia bisa menikmati es krim cone berukuran besar hanya dengan Rp 8.000. Mixue menyasar kelas ekonomi menengah ke bawah sebagai pasarnya, karena itulah strategi harga murah yang diterapkan oleh Mixue.
Mixue menjadikan produk es krim dan minumannya sebagai produk unggulan yang mampu menjadi daya tarik konsumen.
Strategi terakhir yang akan dibahas pada artikel ini, yaitu strategi pemasaran Fear of Missing Out atau FOMO di masyarakat. Strategi FOMO adalah tentang keinginan Anda sendiri untuk mengikuti tren dan tidak ingin merasa ketinggalan berita.
Produk Mixue sedang dihebohkan oleh pengguna media sosial. Orang-orang yang dianggap influencer membeli produk es krim Mixue dan mengulasnya di media sosial. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran masyarakat.
Mereka takut ketinggalan momen dan tidak bisa berpartisipasi dalam apa yang sedang tren.
Karena FOMO, Mixue menjadi populer dan terkenal.
Jadi, itulah yang dibahas dalam artikel kali ini. Semoga kalian mendapat sedikit wawasan dari membaca karya tulis kami.
Nantikan artikel-artikel selanjutnya.
sumber :



Komentar
Posting Komentar